Resmi Diputus Hakim, Buni Yani Divonis Penjara Setahun Enam Bulan

Pada hari Selasa (14/11) kemarin, Buni Yani akhirnya resmi divonis penjara satu tahun enam bulan oleh hakim Pengadilan Negeri Agama Bandung, Jawa Barat. Diungkapkan oleh Ketua Majelis Hakim, M Saptono, Buni dianggap terlibat perkara penyebaran ujaran kebencian bernuarna suku, agama, ras dan antar golongan. Buni terbukti bersalah sudah melanggar pasal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

 

Dalam keterangan hakim, Buni dinilai melakukan ujaran kebencian dengan menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian terhadap masyarakat bernuansa SARA melalui unggahannya di Facebook pada 6 Oktober 2016. Saat itu Buni memposting video mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berdurasi 30 detik yang tengah berbicara di hadapan masyarakat pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

 

Video itu rupanya sudah diedit oleh Buni dengan pengurangan kata ‘pakai’ dalam kutipan yang menyebut surat Al-Maidah 51 itu. Banyak Muslim yang akhirnya menilai jika Ahok menghina agama Islam dan Al-Quran. Hingga akhirnya Komunitas Advokat Muda Ahok-Djarot melaporkan unggahan Buni ke kepolisian karena menimbulkan polemik.

 

Ahok pun terjerat kasus penistaan agama yang berujung pada gelombang aksi massa besar-besaran seperti 411, 212 dan 313. Buni pun sempat dipanggil kepolisian sebagai saksi kasus Ahok pada 10 November 2016 yang membuat Ahok dijadikan tersangka pada 17 November. Tak lama setelah itu, giliran Buni yang dijadkan tersangka oleh Polda Metro Jaya pada 23 November 2016.

 

Buni Yani Sebut Hakim ‘Bodoh’

 

Mantan dosen London School of Public Relations (LSPR) ini menjalani sidang perdana di Bandung pada 13 Juni 2017. Sempat mengundang saksi pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra hingga Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon, Jaksa Penuntut Umum (JPU) saat itu yaitu Andi M Taufik tetap menyebut Buni bersalah dan menuntutnya dengan penjara dua tahun dan denda 100 juta rupiah pada 3 Oktober 2017, seperti dilansir CNN Indonesia.

 

Pada 2 November 2017, Buni sekali lagi menepis dakwaan bandar poker yang dialamatkan kepadanya. “Itu luar biasa tuduhan yang tidak berdasar. Sekarang ini yang terjadi bahwa saya dituduh memotong video. Tapi saya yang disuruh membuktikan saya tidak memotong video, kan stupid (bodoh) gitu loh. Gimana ceritanya? Belajar ilmu hukum dari mana?” papar mantan jurnalis Australian Associated Press (AAP) dan Voice of America (VOA) itu.

 

Dengan begitu berani, Buni pun melakukan Sumpah Muhabalah yang ia sebut sebagai sumpah tertinggi dalam agama Islam. Sumpah itu dilakukan Buni untuk mempertegas bahwa dirinya tak pernah memotong video rekaman pidato Ahok. Ahok sendiri yang disidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara resmi dipenjara dua tahun dan memilih tidak mengajukan banding.

 

Pengacara Bakal Banding ke KY

 

Sebelumnya pada sidang lanjutan saat dibacakan nota pembelaaan pada 17 Oktober 2017, JPU Irfan Wibowo menginterupsi dengan cukup emosional karena dipicu lirikan Buni kepada para jaksa. Buni dianggap sudah menghina persidangan termasuk mengacungkan jari yang oleh Irfan ada bukti rekamannya. Namun saat itu kuasa hukum Buni membantahnya dengan cukup bingung, seperti dilansir Okezone.

 

Atas putusan ini, pengacara Buni yakni Aldwin Rahadian akan melaporkan majelis hakim yang dipimpin Saptono ke Komisi Yudisial (KY). Menurut Aldwin, putusan hakim tidak berdasar dan mengenyampingkan fakta-fakta persidangan. Buni sendiri meskipun divonis penjara sejauh ini tak langsung dieksekusi karena memang menanti banding yang diajukan Buni ke Pengadilan Tinggi Jabar.

Leave a Reply